Menlu Iran: Kami Kini Lebih Siap Hadapi Skenario Perang

Publish Date: 13 Jan 2026


Thông tin phim


Random image
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan pernyataan selama kunjungan ke Lebanon pada 9 Januari.

jalanviral.comTEHERAN, 12 Januari — Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengeluarkan peringatan tegas kepada Amerika Serikat, menyatakan bahwa Teheran kini “lebih siap” jika harus menghadapi skenario perang, meskipun Iran tidak menginginkan konfrontasi bersenjata.

“Kami tidak mencari perang, namun kami telah siap. Bahkan lebih siap dari perang sebelumnya,” ujar Araghchi saat bertemu dengan para duta besar asing di Teheran, dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi nasional Iran.

Pernyataan tersebut diyakini merujuk pada konflik 12 hari yang terjadi antara Iran dan Israel pada Juni 2025, di mana pada hari-hari terakhir pertempuran, Amerika Serikat turut campur dengan melancarkan serangan bom strategis terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran. Langkah tersebut mendorong kedua pihak – Teheran dan Tel Aviv – menuju gencatan senjata.

Dalam wawancara terpisah dengan Al Jazeera versi Arab, Araghchi menegaskan kembali bahwa Iran telah mempersiapkan diri jauh lebih matang untuk menghadapi kemungkinan perang yang baru.

“Jika Washington sekali lagi mengambil risiko menggunakan opsi militer, kami sudah siap,” tegasnya. Meski begitu, ia berharap para pemimpin Amerika akan memilih jalur yang lebih bijak, yaitu dialog.

Araghchi juga menuding adanya kekuatan eksternal yang berupaya menarik Amerika Serikat ke dalam konflik, demi kepentingan strategis Israel. Ia memperingatkan bahwa beberapa "agen teroris" tengah memprovokasi demonstran untuk memperuncing kekerasan, melakukan sabotase, bahkan menyerang aparat keamanan maupun pengunjuk rasa, demi menciptakan instabilitas di dalam negeri.

Tudingan terhadap Israel

Pada 11 Januari, media Iran melaporkan lebih dari 100 petugas keamanan tewas dalam bentrokan dengan massa demonstran. Sementara itu, lembaga-lembaga pengawas HAM internasional menyatakan jumlah korban jiwa sesungguhnya bisa mencapai ratusan.

Meningkatnya kekerasan membuat pemerintah AS pada 12 Januari menyerukan warga negaranya agar segera meninggalkan Iran. Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa ia sedang mempertimbangkan "opsi-opsi tegas" untuk memberi sanksi kepada Teheran jika aparat Iran terbukti melakukan kekerasan berlebihan terhadap warga sipil. Ia pun tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer, sembari menunggu hasil evaluasi dari upaya diplomatik terbaru Iran.

Reaksi dari Amerika Serikat

Menurut laporan Axios, Araghchi dikabarkan telah melakukan pembicaraan dengan Steve Witkoff, utusan khusus Gedung Putih untuk Timur Tengah, terkait kemungkinan melanjutkan negosiasi nuklir serta situasi gelombang protes saat ini.

Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa Teheran tetap mempertahankan sejumlah jalur komunikasi dengan Washington, bahkan di tengah kondisi yang memanas.

Masih Terbuka untuk Dialog

“Tawaran dan ancaman dari pihak Amerika masih saling bertentangan,” ujar Araghchi. “Kami siap kembali ke meja perundingan nuklir, asalkan mereka berhenti melontarkan ancaman dan pernyataan yang bersifat memaksa.”

Ia menegaskan bahwa Iran hanya bersedia membuka diskusi serius jika pemerintah AS benar-benar siap untuk melakukan "negosiasi yang adil dan setara."

Untuk perkembangan terbaru seputar Timur Tengah, geopolitik, serta kabar dunia lainnya, kunjungi jalanviral.com – sumber informasi terpercaya dan aktual setiap hari.

Random image image widget

Bỏ Qua Quảng Cáo

Sau 5 giây sẽ có nút "Bỏ Qua Quảng Cáo"

Đang lựa chọn dữ liệu nhanh nhất gần vùng.

Nhập mật khẩu 123 để xem!

X

Komentar Pedas