Bitcoin Tetap Ditekan Aksi Jual Meski Bertahan Di Atas Usd 70.000

jalanviral.com – Harga Bitcoin (BTC) berhasil kembali menguat hingga bertahan di kisaran USD 70.000, namun tekanan jual dari investor masih terus berlangsung. Data terbaru menunjukkan bahwa aksi distribusi aset digital terbesar di dunia ini justru dipimpin oleh investor ritel atau pemegang Bitcoin dalam jumlah kecil.
Berdasarkan laporan dari Glassnode, investor yang memegang Bitcoin di hampir semua kelompok dompet mulai kembali melakukan penjualan dalam jumlah signifikan. Fenomena ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat pelaku pasar cenderung mengambil langkah lebih hati-hati terhadap aset berisiko.
Indikator Accumulation Trend Score milik Glassnode, yang digunakan untuk mengukur apakah investor sedang mengakumulasi atau mendistribusikan aset, saat ini turun ke sekitar 0,04. Skor ini menunjukkan bahwa jaringan Bitcoin sedang berada dalam fase distribusi yang cukup luas.
Indeks tersebut bergerak dalam rentang 0 hingga 1. Ketika nilainya mendekati 1, hal itu menandakan bahwa investor, terutama pemilik dompet besar, sedang melakukan akumulasi. Sebaliknya, jika mendekati 0, berarti mayoritas pelaku pasar sedang melakukan penjualan.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa tekanan jual terbesar datang dari pemegang Bitcoin dalam jumlah kecil. Dompet yang menyimpan 1 hingga 10 BTC, yang biasanya dikaitkan dengan investor individu, menjadi kelompok paling aktif dalam aksi jual.
jalanviral.com – Sementara itu, pemegang 10 hingga 100 BTC juga tercatat melakukan distribusi dalam jumlah yang cukup besar. Bahkan kelompok investor besar pun tidak sepenuhnya keluar dari tren ini. Dompet yang menyimpan lebih dari 1.000 BTC tercatat masih menjadi penjual bersih, meski intensitasnya lebih rendah dibandingkan investor ritel.
Meski terjadi gelombang distribusi di berbagai kelompok investor, Bitcoin masih menunjukkan ketahanan yang relatif kuat dibandingkan aset makro tradisional.
Dalam beberapa hari terakhir, indeks dolar AS (DXY) naik menembus 99,5, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam sebulan di atas 4,2%. Di saat yang sama, harga minyak Brent juga melonjak mendekati USD 100 per barel. Kondisi ini biasanya menjadi hambatan besar bagi aset berisiko seperti kripto.
Namun demikian, Bitcoin masih mampu bertahan di sekitar USD 70.000 selama tiga sesi perdagangan berturut-turut. Harga tersebut bahkan tercatat meningkat lebih dari 13% dibandingkan titik terendah sejak awal tahun.
Menurut Quinn Thompson, pendiri Lekker Capital, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memicu ketidakpastian pasar. Ia menilai bahwa pengendalian situasi di Selat Hormuz masih sangat sulit dilakukan tanpa kompromi besar dengan Iran atau risiko militer yang signifikan.
“Situasi ke depan kemungkinan akan semakin tegang. Ketika berbagai pihak mulai terdesak, volatilitas pasar cenderung meningkat,” ujarnya.
Selain faktor geopolitik, kekhawatiran terhadap stabilitas pasar kredit swasta juga mulai muncul. Morgan Stanley menjadi salah satu institusi keuangan terbaru yang menerapkan pembatasan penarikan dana pada North Haven Private Income Fund senilai sekitar USD 8 miliar.
Sentimen tersebut turut menekan saham sektor keuangan. Pada perdagangan 12 Maret, saham Morgan Stanley turun sekitar 4%, sementara JPMorgan, Citigroup, dan Wells Fargo masing-masing melemah hampir 3%. Di sektor ekuitas swasta, perusahaan seperti KKR, Apollo Global, dan Ares Management juga mengalami penurunan sekitar 3% hingga 4%.
James Butterfill, Kepala Riset di CoinShares, menilai bahwa harga minyak kini menjadi variabel utama yang memengaruhi pasar kripto.
“Faktor yang mendominasi penilaian aset global saat ini bukan lagi pasar tenaga kerja, melainkan harga minyak dan krisis geopolitik di belakangnya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa laporan data ketenagakerjaan terbaru di Amerika Serikat sebenarnya lebih lemah dari perkiraan. Secara teori, hal ini seharusnya meningkatkan peluang Federal Reserve (The Fed) untuk menurunkan suku bunga lebih cepat. Namun, reaksi pasar tetap terbatas karena investor lebih fokus pada kenaikan biaya energi akibat konflik di Timur Tengah.
Di sisi lain, Dom Harz, salah satu pendiri blockchain layer-2 BOB, menilai bahwa investor institusional kini mulai melihat potensi Bitcoin lebih luas dari sekadar aset spekulatif.
“Institusi tidak lagi ingin sekadar memiliki eksposur terhadap Bitcoin. Mereka juga mencari infrastruktur yang memungkinkan pemanfaatan penuh potensi finansial dari aset ini,” katanya.
Menurutnya, minat terhadap aplikasi keuangan berbasis Bitcoin semakin meningkat, termasuk layanan yang memungkinkan pengguna untuk bertransaksi, menabung, hingga menghasilkan pendapatan melalui jaringan Bitcoin.
Perkembangan terbaru di pasar kripto global ini terus menjadi perhatian para analis dan investor. Untuk mengikuti berbagai perkembangan ekonomi digital, geopolitik, serta tren pasar global lainnya, pembaca juga dapat menemukan berbagai laporan dan analisis menarik melalui portal berita internasional seperti jalanviral.com, yang secara rutin menyajikan informasi terkini dari berbagai sektor penting di dunia.

Komentar Pedas