Petugas Medis India Terinfeksi Virus Nipah, Madu Kurma Diduga Sumber Penularan

jalanviral.com – Barasat, India — Dua perawat dari Rumah Sakit Narayana Multispeciality, yang terletak sekitar 25 km dari pusat kota Kolkata, dinyatakan positif terinfeksi virus Nipah. Dugaan awal menyebutkan bahwa penularan berasal dari konsumsi madu kurma mentah yang terkontaminasi cairan tubuh kelelawar pemakan buah – hewan pembawa alami virus mematikan ini.
Dalam keterangan resmi pada 26 Januari, Dr. Sayan Chakraborty, pakar penyakit menular, mengungkapkan bahwa selain dua perawat yang telah dikonfirmasi positif, tiga tenaga medis lainnya sempat dicurigai terpapar namun hasil tes mereka negatif. Kementerian Kesehatan India menegaskan situasi masih dalam kendali dan belum ada indikasi penyebaran luas di masyarakat.
Dugaan Awal: Madu Kurma yang Terinfeksi
Penyelidikan epidemiologis menemukan bahwa kedua perawat tersebut bertugas bersama dalam shift malam antara 28 hingga 30 Desember 2025. Gejala awal seperti demam tinggi dan gangguan pernapasan muncul sejak 31 Desember. Pada 4 Januari, keduanya harus dirawat intensif di unit ICU. Satu pasien kini menunjukkan tanda-tanda pemulihan, sementara satu lainnya masih dalam kondisi kritis.
Fokus utama penyelidikan mengarah pada perawat A yang sedang kritis. Ia diketahui menghadiri pernikahan di perbatasan India-Bangladesh pada pertengahan Desember dan mengonsumsi madu kurma segar—produk yang berisiko tinggi terkontaminasi air liur kelelawar. Penularan kemungkinan besar terjadi dari sini, lalu menyebar ke perawat B melalui kontak langsung saat bertugas.
Hipotesis kedua menyebut adanya “pasien nol” yang telah meninggal akibat gangguan pernapasan akut namun belum sempat diuji virus. Kedua perawat tersebut diduga terpapar saat merawat pasien ini. Pihak berwenang tidak menampik kemungkinan kesalahan diagnosis awal mengingat gejala awal mirip flu biasa.
Setelah kasus terkonfirmasi, pemerintah daerah segera melakukan pelacakan kontak dan menetapkan zona isolasi. Sebanyak 180 orang yang diduga berkontak langsung ditelusuri, dengan 20 di antaranya—terdiri dari dokter, tenaga medis, dan keluarga pasien—telah dikarantina di fasilitas khusus. Menurut pejabat kesehatan Narayan Swaroop Nigam, semua sampel tes saat ini menunjukkan hasil negatif. Meski demikian, pemantauan tetap dilanjutkan selama 21 hari masa inkubasi virus.
Respon Cepat dan Pengawasan Ketat
Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India juga telah mengeluarkan peringatan nasional. Seluruh negara bagian diminta memperketat sistem pengawasan penyakit menular. Beberapa negara tetangga seperti Thailand dan Nepal pun ikut memperketat pengecekan suhu tubuh penumpang dari wilayah Bengal Barat di pintu perbatasan dan bandara internasional.
Di Vietnam, Kementerian Kesehatan belum mencatat kasus Nipah hingga saat ini. Namun, pada 27 Januari, otoritas setempat telah menginstruksikan peningkatan pengawasan di perbatasan dan masyarakat luas. Warga diimbau untuk tidak mengonsumsi buah-buahan yang menunjukkan tanda gigitan kelelawar atau burung, serta menghindari minum getah pohon seperti nira atau kelapa tanpa proses pemanasan terlebih dahulu.
Ancaman Global dan Imbauan Pencegahan
Virus Nipah termasuk dalam daftar penyakit paling berbahaya versi WHO, dengan tingkat kematian yang bisa mencapai 75%. Gejalanya mirip flu biasa namun dapat berkembang cepat menjadi radang otak dan koma hanya dalam 24–48 jam. Sekitar 20% pasien yang selamat mengalami kerusakan neurologis permanen. Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk virus ini. Penanganan pasien hanya mengandalkan perawatan suportif.
Masyarakat disarankan untuk menghindari kontak dengan kelelawar dan babi sakit, serta tidak mengonsumsi madu atau getah pohon segar yang belum diproses secara higienis.
Untuk informasi dan berita terkini seputar wabah, kesehatan, dan isu-isu global lainnya, kunjungi situs jalanviral.com – sumber berita terpercaya yang siap memperbarui Anda kapan saja, di mana saja.

Komentar Pedas