Amazon Phk 16.000 Karyawan: Restrukturisasi Besarbesaran Di Tengah Transformasi Bisnis
Senin, 29 Januari 2026 | oleh Redaksi Jalan Viral
jalanviral.com - Amazon mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 16.000 karyawan dari divisi perkantoran, menandai langkah lanjutan dari rencana pengurangan 30.000 posisi kerja yang telah dipublikasikan tiga bulan lalu. Meski demikian, raksasa e-commerce asal Amerika Serikat ini tidak menutup kemungkinan akan adanya gelombang PHK lanjutan dalam waktu dekat.

Divisi-Divisi Terdampak
Langkah efisiensi ini memengaruhi berbagai divisi strategis, termasuk Amazon Web Services (AWS), asisten suara Alexa, Prime Video, perangkat keras, periklanan, serta unit pengoptimalan rantai pasok dan pengiriman tahap akhir. Pengumuman ini datang bersamaan dengan keputusan Amazon untuk menutup seluruh toko grosir Fresh dan jaringan toko tanpa kasir Amazon Go yang tersisa. Selain itu, perusahaan juga menghentikan peluncuran sistem pembayaran biometrik Amazon One, teknologi pemindaian telapak tangan yang sempat menuai perhatian.
Menurut laporan Reuters, PHK kali ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar yang diusung CEO Andy Jassy. Ia tengah berupaya memangkas birokrasi internal serta menutup unit-unit bisnis yang dianggap tidak efisien.
Restrukturisasi oleh CEO Andy Jassy
Walau 30.000 pekerjaan yang dihapus hanya mewakili sebagian kecil dari total 1,58 juta karyawan Amazon secara global—yang sebagian besar bekerja di pusat distribusi dan gudang—angka ini setara hampir 10% dari tenaga kerja kantoran dan menjadi PHK terbesar dalam sejarah 30 tahun perusahaan. Angka ini melampaui rekor sebelumnya sebanyak 27.000 pekerjaan yang dihilangkan antara akhir 2022 dan awal 2023.
Beth Galetti, Chief HR Officer Amazon, menyatakan bahwa langkah ini perlu dilakukan demi memperkuat pondasi perusahaan, menyederhanakan struktur manajemen, meningkatkan akuntabilitas personal, serta mengurangi lapisan birokrasi. Ia juga menambahkan bahwa beberapa divisi kemungkinan akan mengalami penyesuaian lebih lanjut.
Penjelasan Manajemen dan Imbas AI
PHK kali ini merupakan gelombang besar kedua hanya dalam tiga bulan, setelah sebelumnya Amazon memangkas 14.000 pekerjaan pada Oktober 2025. Kala itu, pihak manajemen menyebut peran kecerdasan buatan (AI) dan perubahan budaya kerja sebagai faktor utama, serta mengakui bahwa perusahaan telah merekrut secara berlebihan selama pandemi Covid-19.
Menariknya, sehari sebelum pengumuman resmi (27 Januari), sejumlah karyawan AWS menerima email yang secara tidak sengaja membocorkan rencana PHK ini, yang secara internal disebut sebagai Project Dawn, dan sempat menimbulkan kebingungan luas.
“Beberapa mungkin bertanya-tanya apakah ini awal dari ‘ritme baru’, di mana PHK besar diumumkan setiap beberapa bulan. Itu bukanlah rencana kami,” tulis Galetti dalam blog resmi perusahaan.
Para analis menilai bahwa pemutusan hubungan kerja ini menunjukkan bagaimana AI mengubah lanskap ketenagakerjaan korporasi. Teknologi AI kini mampu menangani banyak tugas administratif dengan kecepatan dan akurasi tinggi. CEO Andy Jassy pernah menyatakan pada pertengahan 2025 bahwa adopsi AI secara luas akan mendorong otomatisasi yang lebih tinggi, dan kemungkinan besar berdampak pada penyusutan tenaga kerja kantoran.
Pengaruh AI dalam Perubahan Struktur Tenaga Kerja
Dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF 2026) di Davos pekan lalu, sejumlah pemimpin bisnis menyatakan bahwa meskipun AI akan menghilangkan beberapa jenis pekerjaan, namun akan menciptakan lapangan kerja baru di bidang lainnya. Kendati demikian, dua eksekutif yang diwawancarai Reuters menyebut bahwa AI kerap dijadikan “alasan strategis” untuk mendukung agenda restrukturisasi yang sebenarnya telah direncanakan sebelumnya.
Ikuti terus berita terkini seputar ekonomi global, teknologi, dan ketenagakerjaan di jalanviral.com. Temukan informasi akurat dan tajam setiap hari, hanya di Jalan Viral!

Komentar Pedas