WHO Tetapkan Darurat Internasional Ebola, Ini Tiga Faktor Utama Penyebabnya

Publish Date: 18 May 2026


Thông tin phim


Học sinh treo áp phích truyền thông giáo dục sức khỏe về phòng chống dịch Ebola tại một trường học ở Butembo, Cộng hòa Dân chủ Congo. Ảnh: Unicef
Seorang pelajar memasang poster edukasi kesehatan tentang pencegahan wabah Ebola di sebuah sekolah di Butembo, Republik Demokratik Kongo.

jalanviral.com - Badan Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan wabah Ebola terbaru di Republik Demokratik Kongo (DRC) sebagai “Public Health Emergency of International Concern” (PHEIC) atau darurat kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia internasional. Keputusan tersebut diambil menyusul meningkatnya jumlah korban dan tingginya risiko penyebaran lintas negara.

Menurut laporan terbaru yang dikutip dari berbagai sumber internasional pada 17 Mei, hingga kini tercatat sedikitnya 246 kasus dugaan infeksi dan 88 kematian akibat wabah Ebola yang bermula di Provinsi Ituri, wilayah timur DRC. Virus tersebut kini telah menyebar ke beberapa wilayah lain, bahkan mencapai negara tetangga, Uganda.

WHO menilai situasi ini memiliki potensi ancaman global sehingga memerlukan respons internasional yang lebih cepat dan terkoordinasi. Informasi kesehatan global dan perkembangan isu internasional seperti ini juga ramai menjadi perhatian publik di berbagai platform berita digital, termasuk portal informasi viral seperti jalanviral.com.

Salah satu alasan utama WHO menetapkan status darurat internasional adalah lambatnya sistem deteksi dini di wilayah terdampak. Berdasarkan investigasi media internasional, wabah sebenarnya telah dimulai sejak akhir April.

Keterlambatan Deteksi Jadi Faktor Fatal

Kasus pertama diduga berasal dari seorang pria berusia 59 tahun yang mulai menunjukkan gejala pada 24 April dan meninggal tiga hari kemudian. Namun, otoritas kesehatan baru mengetahui adanya wabah setelah laporan yang beredar di media sosial pada 5 Mei. Saat itu, jumlah korban meninggal disebut telah mencapai sekitar 50 orang.

Profesor Anne Cori, pakar pemodelan penyakit menular dari Imperial College London, menyebut tingginya jumlah kasus saat pertama kali diumumkan menunjukkan virus telah menyebar diam-diam selama beberapa pekan. Kondisi ini membuat metode standar seperti pelacakan kontak menjadi jauh lebih sulit dilakukan.

Virus Bundibugyo Belum Memiliki Vaksin

Faktor lain yang memperparah situasi adalah munculnya strain langka Ebola jenis Bundibugyo. Dari empat jenis Ebola yang diketahui dapat menginfeksi manusia, strain ini hanya pernah muncul dua kali sebelumnya, yakni pada 2007 dan 2012.

Para ahli menegaskan bahwa vaksin Ebola yang saat ini tersedia, Ervebo, tidak efektif melawan varian Bundibugyo. Selain itu, dunia medis juga belum memiliki terapi khusus yang benar-benar terbukti ampuh untuk strain tersebut.

Virus Ebola dikenal sangat mematikan karena menyebabkan demam berdarah berat, pendarahan internal dan eksternal, serta memiliki tingkat kematian hingga 50 persen. Tidak hanya kelompok rentan, penyakit ini dapat menyerang siapa saja.

Perkembangan wabah ini pun menjadi perhatian luas masyarakat global dan terus menjadi topik hangat di sejumlah media online, termasuk kanal berita internasional di jalanviral.com.

Konflik Bersenjata Hambat Penanganan

WHO juga menyoroti kondisi keamanan di DRC sebagai hambatan terbesar dalam upaya pengendalian wabah. Negara tersebut telah mengalami 17 kali wabah Ebola sejak 1976, dan sebagian besar penanganannya terkendala konflik bersenjata.

Profesor Paul Hunter dari University of East Anglia menjelaskan bahwa tanpa vaksin efektif, langkah utama pengendalian hanyalah isolasi pasien di pusat perawatan khusus. Namun di banyak wilayah konflik, fasilitas kesehatan justru menjadi sasaran serangan kelompok milisi.

Akibatnya, banyak warga yang takut mendatangi rumah sakit meskipun mengalami gejala. Sebagian memilih bersembunyi di tengah masyarakat, yang secara tidak langsung memperbesar potensi penularan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.

Wabah yang awalnya hanya terdeteksi di Provinsi Ituri kini telah menyebar hingga Uganda. Otoritas kesehatan mengonfirmasi dua kasus lintas batas dari DRC ke Uganda, termasuk satu pasien yang meninggal di ibu kota Kampala.

Penyebaran Sudah Menembus Perbatasan

Tingginya angka tes positif serta masuknya virus ke wilayah perkotaan padat penduduk meningkatkan kekhawatiran bahwa Afrika Tengah dapat menghadapi krisis kesehatan yang lebih besar apabila tidak segera mendapat bantuan internasional.

WHO menegaskan bahwa status PHEIC bukan dimaksudkan untuk menciptakan kepanikan, melainkan untuk mengaktifkan sistem tanggap darurat global. Dengan status tersebut, negara-negara anggota diwajibkan meningkatkan transparansi data, memperkuat pengawasan kesehatan, dan mengikuti pedoman pengendalian wabah internasional.

Selain itu, deklarasi PHEIC juga membuka akses terhadap dana darurat internasional guna mempercepat distribusi bantuan medis dan logistik.

PHEIC merupakan tingkat peringatan tertinggi WHO berdasarkan International Health Regulations 2005. Sebelumnya, status serupa pernah diterapkan pada pandemi flu H1N1 tahun 2009, wabah Ebola Afrika Barat 2014, virus Zika 2016, pandemi Covid-19 tahun 2020, hingga wabah Mpox beberapa tahun terakhir.

Status Darurat Tertinggi WHO

Kesamaan dari seluruh wabah tersebut adalah kemampuan penyebaran lintas negara yang cepat dan risiko besar terhadap sistem kesehatan global.

Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap ancaman penyakit menular, masyarakat kini semakin aktif mengikuti perkembangan informasi kesehatan internasional melalui berbagai platform digital terpercaya dan portal berita populer seperti jalanviral.com.

Bỏ Qua Quảng Cáo

Sau 5 giây sẽ có nút "Bỏ Qua Quảng Cáo"

Đang lựa chọn dữ liệu nhanh nhất gần vùng.

Nhập mật khẩu 123 để xem!

X

Komentar Pedas