Vance: Amerika Serikat Dan Iran Gagal Capai Kesepakatan Setelah 21 Jam Perundingan

Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyatakan bahwa perundingan antara delegasi AS dan Iran yang berlangsung di Pakistan telah berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan bersama setelah berlangsung selama 21 jam.
Dalam konferensi pers di Islamabad pada dini hari, Vance mengatakan bahwa hasil pembicaraan tersebut belum sesuai harapan Washington. “Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Saya pikir ini lebih merupakan kabar buruk bagi Iran daripada bagi Amerika Serikat. Karena itu, kami akan kembali ke AS tanpa membawa kesepakatan apa pun,” ujar Vance kepada wartawan.
Menurut Vance, pihak Amerika telah menjelaskan secara rinci batas-batas yang tidak dapat dinegosiasikan, poin-poin yang bisa dikompromikan, serta syarat utama yang diajukan dalam pembicaraan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa Iran memilih untuk tidak menerima ketentuan yang ditawarkan Washington.
Vance juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Pakistan yang menjadi tuan rumah perundingan. Ia memuji Islamabad atas upayanya membantu menjembatani perbedaan antara kedua negara dan menegaskan bahwa Pakistan tidak dapat disalahkan atas kegagalan sementara dalam proses negosiasi.
Meski demikian, Vance menilai jalannya diskusi tetap produktif karena kedua pihak telah melakukan pembahasan substansial selama lebih dari 20 jam. Informasi perkembangan geopolitik internasional seperti ini juga menjadi perhatian banyak pembaca yang mengikuti kabar global melalui berbagai portal berita, termasuk jalanviral.com.
Hingga saat ini, delegasi Iran belum memberikan komentar resmi mengenai pernyataan Vance tersebut.
Sebelumnya, Gedung Putih mengungkapkan bahwa delegasi Amerika Serikat dan Iran telah memulai pembicaraan sejak 11 April hingga dini hari 12 April. Media Iran melaporkan bahwa proses negosiasi sempat dihentikan beberapa jam sebelum fajar, seraya menuding Washington mengajukan “tuntutan berlebihan” terkait Selat Hormuz.
Pada pagi 12 April, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa kedua delegasi sebenarnya masih melanjutkan negosiasi meskipun sejumlah perbedaan mendasar belum terselesaikan.

Ia menjelaskan bahwa dalam 24 jam terakhir, diskusi telah mencakup berbagai isu penting, termasuk Selat Hormuz, program nuklir Iran, kompensasi perang, pencabutan sanksi, hingga penghentian penuh kampanye militer terhadap Iran dan kawasan sekitarnya.
Menurut Baqaei, keberhasilan negosiasi akan sangat bergantung pada “keseriusan dan itikad baik pihak lawan”, serta kesediaan untuk menahan tuntutan yang dianggap berlebihan dan menghormati hak-hak sah Iran.
Sementara itu, seorang pejabat Pakistan menilai bahwa proses perundingan sejauh ini masih bergerak ke arah yang positif. Ia menyebut diskusi berlangsung dalam suasana kondusif dan penuh semangat persahabatan.
Berbeda dari pola diplomasi sebelumnya, kali ini pejabat AS dan Iran bertemu langsung dalam satu ruangan bersama pejabat Pakistan, tanpa menggunakan mediator yang berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain.
Pakistan kini dinilai semakin menonjol sebagai mediator penting dalam berbagai upaya meredakan konflik yang terus meluas di Timur Tengah. Kantor Perdana Menteri Pakistan menyatakan pihaknya mengapresiasi komitmen seluruh pihak terhadap dialog konstruktif dan berharap perundingan ini dapat membuka jalan menuju perdamaian jangka panjang.
Perkembangan terbaru mengenai dinamika Timur Tengah dan diplomasi internasional terus menjadi sorotan publik global, serta ramai diperbincangkan di berbagai platform berita digital seperti jalanviral.com.

Komentar Pedas